Langsung ke konten utama

Terapi Bioresonansi untuk Alergi Berhasilkah? (7 - Selesai)

tikacerita.com,- Gara-gara menulis serial terapi alergi Mencoba Terapi Bioresonansi untuk Alergi) hingga tulisan ke-6 (Terapi Bioresonansi Kenapa Perlu Lanjut), banyak japrian yang masuk (ditambah pertanyaan-pertanyaan di Quora) yang nanyain: 'Mbakk gimana hasil bioresonansi?' 


terapi bioresonansi www.tikacerita.com



Jadi ini dia jawabannya.



terapi bioresonansi untuk alergi www.tikacerita.com
Kalo kurang jelas di-zoom aja yess

Alhamdulillah, yang sebelumnya aku alergi pada 54 jenis alergen, setelah sekian bulan terapi akhirnya berkurang jadi 41.

Masih banyak ya? Haha, udah bersyukur banget ini mah, daripada enggak sama sekali. Orang-orang lain yang beberapa bulan terapi tapi reaksi alerginya udah berkurang jauh, biasanya jenis alergennya memang nggak banyak. Kadang nggak sampai 10. Jadi aku harus tau diri, nggak menuntut supaya cepet sembuh total. Nanti ditegur sama malaikat: woii inget bersyukur woi, bisa bayar terapi udah alhamdulillah. Hahaha..

Sebenarnya terapi macam apa sih ini?

Jadiii.. terapi ini menggunakan dasar teori fisika kuantum, seperti yang dijelaskan di sini, dengan cara memperbaiki komunikasi antar sel. Cara kerjanya adalah dengan mengembalikan frekuensi gelombang elektromagnetik yang terganggu ke frekuensi yang normal. Menurut penelitian, sel lebih sensitif 100x terhadap informasi dalam bentuk gelombang elektromagnetik dibanding informasi secara kimia. Nggak heran, menurut studi, tingkat keberhasilan terapi ini terhadap penderita alergi mencapai 84-93%. Benar-benar kabar baik untuk penderita alergi bukan?

Nah, sejak pandemi, jadwal praktek terapi bioresonansi di Persada Hospital dikurangi jadi tinggal rabu sama jumat aja, nggak tiap hari lagi. Jadwal terapiku sendiri juga dikurangi jadi 2 minggu sekali. Kata perawatnya, pasien lain bahkan banyak yang berhenti dulu terapinya. Aku sempat nanya ke dokternya, terapi terhenti gitu jadi gimana efeknya ke tubuh. Dokter bilang, yang seperti itu, nanti kalau mulai terapi lagi harus mengulang sinkronisasi lagi.

Aku sendiri dengan frekuensi dua minggu sekali aja rasanya ada aja reaksi alergi yang kambuh (yang paling sering sih gatel), nggak kebayang kalau harus berhenti sama sekali.

Enaknya jadi pasien bioresonansi di Persada tuh, udah kayak punya asisten pribadi aja. Kalo badan kenapa-napa, tinggal chat perawatnya: 'Mbak, aku kok begini-begini ya?'
Perawatnya biasanya  bilang: 'Iya nanti kalau pas terapi saya kerjain'.
Hehe, jadi berasa nggak butuh ke dokter-dokter lain lagi. All in deh.


Terapi Bioresonansi Bukan Cuma Buat Alergi

Kapan hari itu aku barengan terapi sama seorang pasien yang entah sakit apa. Dulu dia sempat didiagnosa umurnya cuma tinggal 6 bulan karena penyakit tersebut. Juga bakal mandul, nggak bisa punya anak. Tapi kemudian dia rutin terapi bioresonansi dan ternyata dia bisa bertahan sampai usia 30-an dan bisa punya anak.

Aku kaget juga denger obrolan mereka (pasien-dokter-perawat). Ternyata bioresonansi bukan cuma buat alergi, karena konsepnya memang normalisasi gelombang tubuh.

Di momen yang lain lagi, aku terapi bareng sama seorang pasien autistik. Pernah juga bareng sama pasien autoimun. Di lain hari, bareng sama pasien stroke.

Dengan cara kerja yang aku jelaskan di atas, sebenarnya nggak heran juga kalau terapi ini bisa digunakan untuk penderita penyakit lain kan? Selain mengobati alergi dan mengurangi gejalanya, terapi bioresonansi ini berfungsi antara lain:

  • Terapi pada penyakit kronis,
  • Memperbaiki energi dan kebugaran tubuh,
  • Detoksifikasi kimia, bakteri, virus, parasit, jamur, berbagai bentuk logam berat,
  • Terapi terhadap nyeri dan kelelahan kronis.
  • Menyembuhkan luka dan trauma pembedahan dengan lebih cepat.
Aku tahu, kalian pasti bertanya-tanya, kalau emang bisa untuk macam-macam penyakit, gimana dengan Covid-19?

Nah, kebetulan banget terakhir terapi kemarin aku nanya, alatnya bisa buat cek Covid nggak? Kata dr. Irine bisa dong, jadi langsung aja aku minta dicek. Alhamdulillah hasilnya negatif. 

Menurut penjelasan beliau, bisa aja saat seseorang dites PCR hasilnya negatif tapi ketika dicek pakai Bio-E hasilnya positif lho. dan ini benar-benar terjadi pada seorang dokter. Hal semacam ni bisa terjadi karena saking pinternya si virus Covid-19 ini, yang bisa aja nggak berada dalam sample yang terciduk saat pengambilan. Nyebelin emang ya virus ini, pake ngerjain ngajak petak umpet segala.
 
Oiya, secara biaya, cek Covid-19 dengan alat ini relatif jauh lebih murah lho daripada tes PCR mandiri yang sampai berjuta-juta. 


Jadi begitulah teman, barangkali keluarga kalian mencari pengobatan alternatif yang berbasis medis, mungkin terapi bioresonansi (biofisika/bio-e kalo di Persada) ini bisa jadi pertimbangan.


Tulisan ini mungkin postingan terakhir dari serial terapi bioresonansi di blog ini. Aku udah nggak tau lagi mau cerita apa soal terapi ini karena semuanya udah kuceritakan. Tinggal dijalani aja. Bagiku pribadi, terapinya bakalan masih lama kujalani, jadi aku perlu menguatkan diri sendiri untuk terus terapi sampai tuntas, sekaligus menguatkan kantong supaya tetap bisa membiayai terapi ini karena terus terang biaya terapi bioresonansi ini nggak bisa dibilang murah juga kalau harus rutin. Oya, siapa tahu kalian ingin membantuku membiayai biaya terapiku, kalian bisa membaca karyaku dengan membeli cendol di trakteer. Cuma 5 ribu kok harga cendolnya. Makasih banyak sebelumnya.

Buat kalian, apapun keputusan kalian, menjalani terapi ini atau nggak, lanjut terapi atau nggak, semoga itu yang terbaik. Amin..

Makasih udah bersedia mampir dan membaca. Semoga ada manfaatnya.



Komentar

  1. Hmm, menarik sekali. Mulai sejak entah ke part berapa saya baca cerita tentang terapi bioresonansi ini di blog Mbak Tika. Jadi kepikiran pengen ngajak mama terapi bioresonansi, soalnya beliau sering ngeluh tubuhnya sakit tapi meski ke dokter cuma disaranin banyak istirahat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah pembaca setia ternyata, makasih banyak ya kak. Coba aja diajak mamanya, semoga terbantu yaa

      Hapus
  2. stay safe and stay healthy, everyone :D

    BalasHapus
  3. Semoga terapinya berjalan lancar ya Mbak Tika. Eh udah lancar ya tinggal biaya terapinya deh semoga selalu dilancarkan. Btw, saya baru tau banget tentang pengobatan bioresonansi ini, jadi tertarik untuk mencoba walaupun saya tidak ada gejala alergi, tapi kalau fungsinya mengembalikan atau menyeimbangkan gelombang dalam tubuh jadi penasaran ingin mencoba.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin amin.. makasih doanya kak. Coba aja kalo penasaran,hehe, semoga sehat selaluu

      Hapus
  4. Terapi Bioresonasi, wah baru tau juga mbak. Dapet pengetahuan baru lagi setelah baca ini. Untuk mbaknya semoga lancar semua yah, proses penyembuhannya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin.. Makasih doanya kak, makasih juga udah mampir yaa

      Hapus
  5. Aku baru tahu nih ada terapi seperti ini. Bermanfaat sekali mbak, infonya. Trims :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama kak, senang udah dikunjungi, makasih yaa

      Hapus
  6. Kaa minta nomor asistennya dong, mau nanya klo utk badan yg suka berkedut gmn?bisa sembuh ga dgn terapi ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Langsung telpon ke RS Persada aja kak, minta disambungkan ke Bio-E. 0341-2996500/2996333

      Hapus
  7. biayanya sekarang brp say, konsul, terapi dll berapa ya

    BalasHapus
  8. terima kasih mba untuk informasinya, baru tahu kalau ada alternatif terapi ini untuk pengobatan tersebut, bisa jadi rekomendasi buat beberapa orang untuk menyembuhkan alerginya ya

    BalasHapus
  9. MashaAllaa~
    Perjuangan buat sehat kembali dengan metode berbasis medis.
    Aku yakin siih.. kalau tubuh kita ada 'rahasia' nya dan semoga dengan ilmu pengetahuan, kita bisa sehat selalu.

    **aku jadi inget salah satu terapi jaket yang dulu diciptakan prof orang Indonesia buat terapi sel kanker. Tapi karena Indonesia gak mau menggunakan metode tersebut, akhirnya penelitiannya gak berkembang.

    BalasHapus

Posting Komentar

Haii, salam kenal. Terima kasih sudah berkunjung. Silakan komentar di sini yaa.

Postingan populer dari blog ini

Cara Mudah Membeli Tiket Kereta Api Via Online

tikacerita.com,-   Bepergian ke luar kota dapat dilakukan dengan berbagai macam cara. Bisa dengan mengendarai kendaraan pribadi atau menggunakan jasa transportasi umum.  Kalau memakai kendaraan pribadi tidak akan menjadi masalah karena waktunya fleksibel, bisa kita tentukan sendiri. Lain halnya kalau mengendarai transportasi umum. Kalau memilih untuk naik transportasi umum, jadwal keberangkatan memang masih bisa kita yang menentukan namun tentu saja untuk masalah tiketnya tidak bisa seenaknya sendiri, dalam arti jika ingin memperoleh tiket sesuai dengan yang kita inginkan maka harus dipesan jauh-jauh hari. Kereta api gerbong baru (sumber: Google) Sebetulnya tiket masih bisa kita dapatkan di hari H keberangkatan namun kemungkinannya kecil sekali, kenyataan yang sering terjadi kita akan kehabisan tiket. Atau bisa jadi kita masih bisa memperoleh tiketnya tetapi dengan harga lebih mahal dan sudah tidak bisa memilih lagi, sesuai apa yang ada saja. Memilih di sini ...

Naik Busway dari Blok M ke BSD, Nyaris Kecopetan

tikacerita.com,- Kalo hari sabtu beberapa minggu kemaren kalian liat foto, video ato status berseliweran di medsos tentang antrian di gedung Kemendikbud, Senayan, kuberitahu kau, teman, aku juga nyempil situ, berkeringat dan kelaparan, demi info dan ilmu cara dapet beasiswa yang tokcer.  Tapi apa daya, meskipun udah antri setengah mampus, workshop dan forum udah penuh banget sama rangorang yang antri duluan, jadilah kite-kite yang ampe gosong dan kemripik antri di trotoar cuma kebagian area stand aja. Itupun waktunya dibatasi karena di luar yang antri masih banyak banget. Trotoarnya lebih padat isinya daripada jalan raya Ya sudahlah ya, demi perikemanusiaan serta keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, keluarlah aku dari arena pertarungan setelah mendapatkan segebok brosur yang beberapa diantaranya cuma asal comot karena udah diusir-usir sama panitia. Berangkat habis subuh, berharap bisa ikut semua acara sampe maghrib sesuai jadwal, ternyata jam 10 pagi ...

Lembang, Next Destination Kalo ke Bandung

tikacerita.com,-  Bandung. Entah udah berapa kali aku ke kota kembang ini, secara ortuku tinggal di situ. Walaupun udah sering (banget), sayangnya kebanyakan kunjunganku ke kota ini adalah untuk urusan keluarga. Jalan-jalan? Boro-boro. Nggak ketinggalan kereta pulang aja udah syukur 😅. Padahal, tau sendiri kan, Bandung itu punya segudang destinasi wisata. Di kotanya aja, ada Gedung Sate, Lapangan Gasibu, Museum Geologi, Saung Angklung Udjo, Bandung Science Center, Upside Down World, Taman Hutan Raya, Babakan Siliwangi, NuArt Sclupture Art, dll yang belum sempat terjamah. Di Bandung tuh rasanya waktu habis di jalan karena macetnya. Karena itu, vacation goal kami yang berikutnya kalo ke Bandung adalah ke Bandung coret, hehehe... Pilihannya sih antara Ciwidey atau Lembang. Dua-duanya sih udah pernah dikunjungi rame-rame sama keluarga, cuma gak bisa lama karena (lagi-lagi) terbatas waktu. Harus mikir, baliknya ke Bandung kalo kesorean bakal macet banget. Dan emang kej...